Friday, 14 October 2005

Militan

Minggu, 09 Oktober 2005

ASAL USUL

Ariel Heryanto

Militansi tidak sama dengan militerisme. Tapi banyak persamaan dan kaitannya. Seperti juga premanisme, keduanya berkembang-biak di berbagai wilayah perang. Juga di negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang pernah dikuasai oleh pemerintahan militer.

Mengatasnamakan agama sebagian militan menyerang pusat keramaian publik sekuler yang dianggap musuh atau maksiat walau tak ada perang. Di tempat lain militansi mendorong ribuan orang untuk menyerang rekan sebangsa setanah air gara-gara perbedaan agama.

Seperti pasukan tempur dalam perang, kaum militan dilatih, disenjatai, dan dihormati untuk menghancurkan musuh tanpa pertimbangan moral universal, penalaran secara kritis, atau solidaritas kemanusiaan global. Semua nilai yang disucikan Pancasila itu dianggap beban kecengengan yang harus dibersihkan dalam batin militan selama mereka dilatih.

Militanisme tidak baru dalam sejarah bangsa kita. Dan jelas bukan monopoli prajurit atau kaum beragama. Bulan lalu Jakarta terusik pendukung kesebelasan sepak bola dari daerah yang dibilang bonek (bondo nekat, istilah Jawa artinya bermodal nekat atau asal nekat). Kaum bonek berwatak militan dalam membela tim kesayangannya. Gara-gara mereka sekuler, miskin, dan dari kelas bawah, mereka tidak digubris kaum militan parlente.

Tapi ada kaum militan lain yang lebih dahsyat dalam sejarah Indonesia, bukan berasal dari militer maupun kelompok agama: yakni kaum komunis. Setengah abad lalu, komunis merupakan musuh bersama militer dan militan agama di Indonesia. Ironisnya, musuh bersama ini juga rekan sebangsa-setanah air, bahkan rekan seperjuangan kemerdekaan pada dekade sebelumnya.

Soal itu sudah banyak diketahui khalayak. Yang jarang mereka ketahui: di masa jayanya, Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis terbesar di dunia di luar Republik Rakyat China dan Uni Soviet. Waktu itu lebih dari separuh umat manusia hidup di bawah pemerintahan negara yang resminya berasaskan komunisme atau sosialisme. Selama abad ke-20 tidak ada isme lain yang sehebat itu. Aneh kalau ada mahasiswa masa kini yang belajar tentang sejarah masyarakat abad ke-20 tetapi tidak diberi kuliah tentang Marxisme atau Komunisme. Mereka sama malangnya dengan mahasiswa yang belajar Indonesia tanpa diajar tentang militerisme dan militanisme.

Seperti kelompok militer dan agama, kalangan komunis punya pendukung militan, selain yang sudah dicerahkan (atau ”tercemar” tergantung menurut siapa) watak intelektual, nasionalis, atau humanis.

Sejak rontoknya Orde Baru, terjadi kekerasan swasta terhadap orang, tempat, dan lambang-lambang yang berkait dengan kejayaan Amerika Serikat, liberalisme dan kapitalisme dunia. Ada kelab malam, pusat judi, bar atau karaoke yang diobrak-abrik. Bahkan dibom. Ada hotel di-sweeping, ada sekolah atau media massa diancam atas nama agama juga.

Agar orang tidak keburu mencurigai agama yang dibela kaum militan ini, ada baiknya kita ingat bahwa tindakan seperti itu sudah dikerjakan militan komunis Indonesia di tahun 1960-an. Seperti yang terjadi belakangan, setengah abad lalu Kedutaan Besar Amerika juga diserbu demonstrasi dan bendera Amerika Serikat mereka bakar di jalan.

Pada dekade 1960-an militan agama bersekutu dengan militer dan Amerika Serikat untuk membantai komunisme. Ironisnya, setengah abad kemudian kaum militan agama meneruskan militanisme komunis dalam menghujat imperialisme Amerika dan kapitalisme dunia. Caranya pun tidak jauh berbeda. Andaikan komunis tidak dibantai, barangkali hari ini pun mereka sering demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Inggris, atau Australia. Juga menyerang klub malam, perjudian atau pornografi.

Bagi sebagian pendukungnya, komunisme juga semacam agama. Perjuangan mereka disucikan. Seperti militan agama resmi, mereka tidak toleran pada kelompok yang tidak sealiran, walau seagama. Karena itu sesama militan sering bentrok.

Jadi radikalisme belakangan ini mungkin tidak perlu dikaji semata-mata sebagai kebangkitan agama tertentu. Mungkin lebih tepat ini dipahami sebagai kebangkitan kembali militanisme, premanisme, bonekisme yang sudah berabad-abad usianya di Nusantara. Cuma slogan dan bajunya berganti.

Hari-hari ini militanisme itu berbaju agama. Bulan lalu bajunya pakai logo tim sepak bola. Beberapa dekade lalu berbaju loreng. Setengah abad lalu bajunya komunis dan antiagama. Hakikat mereka tidak banyak beda. Gara-gara beda baju, sesama militan siap berbaku-bunuh.

Jangan-jangan itulah sebagian (untung hanya sebagian) dari watak dan jatidiri bangsa kita. Resminya Pancasila punya lima pokok yang serba bagus dan mulia. Tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari militanisme dan bonek menjadi sila pertama, kedua atau ketiga.

Korupsi ada di semua negara. Yang menakjubkan banyak orang asing: korupsi di Indonesia sejak Orde Baru adalah skalanya, blak-blakannya, nekadnya. Ikut pemilu dan masuk parlemen jelas butuh kenekatan tertentu, di samping modal koneksi. Misalnya nekat memalsukan ijazah. Sesudah masuk parlemen, perlu nekat ikut studi-banding ke pusat-pusat konsumerisme dunia, biar rakyat memaki-maki. Apalagi dalam soal kenaikan gaji.

Naik pesawat terbang butuh kenekatan tertentu. Bukan saja banyak kecelakaan pesawat. Paling sedikit satu warga negara terbaik kita yang dibunuh secara terencana rapi ketika diberi hidangan di dalam penerbangan. Mungkin dia bukan satu-satunya korban.

Naik taksi di Jakarta, khususnya bagi perempuan, membutuhkan kenekatan ala bonek. Tanpa keberanian gila, sulit bagi seorang pejalan kaki untuk menyeberang jalan di kota-kota besar Indonesia walau menggunakan jalur penyeberangan bergaris zebra. Perlu nekat untuk sembahyang bagi sebagian minoritas di Jakarta. Perlu nekat bagi yang lain untuk cari nafkah. Perlu nekat untuk cari kerja dan sekolah.

Untung Indonesia juga punya watak-watak lain yang patut dibanggakan dan layak diharapkan melawan gejala itu. Melawan semua itu juga dibutuhkan keberanian. Ini berbeda dari militansi dan asal nekat.

Sumber: Kompas

Monday, 3 October 2005

Galakkan Pemakaian Sepeda

Warga Jakarta Diminta Galakkan Pemakaian Sepeda

Jakarta, (Analisa)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, minta kepada warga Jakarta untuk menggalakkan pemakaian sepeda dan tidak berlebihan dalam menggunakan kendaraan bermotor.

"Mari kita galakkan bersepeda dan jangan berlebihan dalam menggunakan sepeda motor," kata Fauzi Bowo dalam sambutan pembukaan acara Jakarta Car Free Day 2005 di Jl MH Thamrin Jakarta, Minggu pagi.

Selain itu dia mengajak kepada seluruh warga Jakarta agar lebih menghemat pemakaian energi baik untuk bekerja maupun di rumah, termasuk mendukung penyelenggaraan kegiatan Jakarta Car Free Day yang berlangsung satu hari mulai dari jam 07.00 sampai dengan 17.00 dengan menggunakan jalur cepat ruas jalan Jalan Jenderal Soedirman dan Jalan MH Thamrin.

Sebelum membuka acara tersebut, Fauzi beserta komunitas pekerja bersepeda Bike to Work melakukan aksi bersepeda bersama dari depan Gerbang Gelora Bung Karno di Jalan Jenderal Soedirman sampai di depan panggung acara yang terletak di depan Gedung BII Jalan MH Thamrin.

Sementara itu, salah satu panitia dari LSM Pelangi, Nugroho Nurdikiawan mengatakan penyelenggaran Jakarta Car Free Day 2005 hari ini merupakan yang keempat kalinya diselenggarakan di Jakarta.

"Jakarta sebagai kota yang ikut memperingati Car Free Day, dimana sebagian ruas Jalan Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin selama kegiatan berlangsung ditutup bagi kendaraan bermotor pribadi dari pagi sampai sore sekitar pukul 17.00," kata Nugroho, seraya menjelaskan maksud penutupan ruas jalan tersebut untuk memberi kesempatan kepada warga kota melakukan kegiatan massal seperti "Enjoy Walking Jakarta" yang berisi pameran, musik lingkungan, sampai pembacaan puisi, "Enjoy Dokar Jakarta", "Enjoy Biking Jakarta", dan "Enjoy Sepeda Onthel Jakarta'.

Pihaknya memberikan apresiasi terhadap masyarakat mau meramaikan kegiatan dengan membawa sepeda atau berolahraga pada kesempatan itu, sesuai tema Jakarta Car Free Day yang tahun ini "Beralihlah dari kendaraan pribadi untuk mengurangi pencemaran udara Jakarta",

Tema ini sengaja dipilih karena saat ini Car Free Day telah dijadikan kegiatan Pemda DKI Jakarta untuk memulihkan kondisi udara Jakarta, bahkan telah dimasukkan dalam Pasal 27, Perda No. 2 tahun 2005 tentang Pengendalian dampak Pencemaran Udara.

Diharapkan, Car Free Day tahun ini bisa dijadikan momentum untuk mengingatkan pentingnya sarana transportasi seperti sepeda, fasilitas pejalan kaki, dan penyediaan angkutan umum yang lebih baik agar para pengguna kendaraan pribadi beralih ke moda transportasi tersebut sebagai usaha mengurangi pencemaran udara Jakarta.

"70 persen pencemaran udara dari sektor transportasi di Jakarta bersumber dari kendaraan pribadi. Jumlah kendaraan pribadi yang jauh lebih besar juga menyebabkan ruang yang dibutuhkan jauh lebih besar walau hanya bisa dimanfaatkan orang dalam jumlah yang lebih kecil," lanjut Nugroho mengenai target acara yang ditujukan lebih kepada kendaraan pribadi.

Sejarah Car Free Day berawal pada tanggal 22 September 1998, saat Menteri Lingkungan Hidup Perancis mencetuskan ide dengan tema "Di kota tanpa mobilku" dan melaksanakannya di 34 kota.

Pada tahun berikutnya ide ini diulang di 66 kota di Perancis, serta dijadikan ujicoba di negara-negarac Eropa lain, yang kemudian gerakan ini resmi menjadi European Car Free Day pada 22 September 2000, di mana 760 kota di berbagai negara Eropa melarang kendaraan pribadi masuk ke beberapa ruas jalan umum.

Jakarta Car Free Day 2005 merupakan kerjasama antara Pemda DKI Jakarta,BPLHD DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Polda Metro Jaya, Mitra Emisi Bersih, Apresiasi Emisi Bersih, KPBB, Yayasan Orang Indonesia, Pelangi, Walhi Jakarta, Swisscontact, Mapolpala, dan elemen mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta. (Ant)

Sumber: Analisa Daily