"...now is a new era of responsibility - a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world,..." - Barack H. Obama, the US first black African-American president inaugural speech 20 January 2009
"...roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense,..." - this statement is a paradox. If American people care to live more frugal, more eco-nomic-ally and will not waver in its defense then it made sense especially in face of current economic recessions which was rooted in individualistic selfish-ness and greed. America must regulate strongly its billion dollars advertising industry now.
In this case the Obama administration must lead by examples and equally important by taming the wild 'casino' economy through strong and prudent re-regulations. Always taking into account the long-term aspect of sustainability and how it will cost the environment and its ecosystems and other species and us human inhabitants of this planet. So America must lead by being a RESPONSIBLE nation in this beautiful but fragile planet.
Eclectic collections of posts & reposts relating to 'development' as lifestyle improvements. Blogging since 2004.
Wednesday, 21 January 2009
Wednesday, 7 January 2009
BERDIKARI Sebagai Upaya Memperbaiki Perekonomian Indonesia
Berdiri di atas kaki sendiri disingkat BERDIKARI atau berswasembada merupakan istilah yang terkenal di zaman pemerintah Republik Indonesia dipimpin presiden Soekarno sekitar tahun 60-an. Dengan cara ini kita berusaha semaksimal mungkin untuk memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang kita miliki.
Akibat terlilitnya hutang negara yang sangat besar maka usaha ini akan memerlukan keterlibatan berbagai pihak untuk hidup lebih sederhana. Bahkan mungkin bisa dikatakan miskin bersama-sama. Mari kita makan apa adanya. Segala macam upaya import baik barang konsumsi mau pun barang produksi dihindarkan namun upaya ekspor sedapat mungkin ditingkatkan. Hal ini semata guna menghemat devisa yang semakin lesu saja.
Kita memiliki tanah air yang dapat dibudidayakan melalui agroindustri dan agrobisnis. Teknologi yang digunakan pun sedapat mungkin dari teknologi yang kita miliki. Suku cadang untuk memperbaiki berangsur-angsur harus dibuat di dalam negeri. Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan.
Kita pernah unggul di Asia Tenggara ini beberapa tahun silam. Karenanya keunggulan itu harus kita kejar dengan semangat seperti India atau Republik Rakyat Tiongkok.
Memang kita telah terlanjur ketinggalan dibandingkan India dan Tiongkok. Namun jika tidak dari sekarang pemerintah memaksa rakyat untuk BERDIKARI tampaknya ketinggalan itu akan semakin jauh saja.
Kita jangan silau atau mau mencontoh Singapura mau pun Hongkong sebab Singapura atau Hongkong adalah negara kecil yang hanya bisa sukses kalau mereka bertindak sebagai calo atau makelar. Negara kita yang luas dan penduduk yang 200 juta lebih tidak mungkin menjadi calo atau makelar semuanya. Siapa yang akan dimakelari atau dicaloi ?
Yang boleh dicontoh adalah negara India, Tiongkok, Korea, USA, atau Jepang. Untuk mengejar mereka tentu tidak mudah bahkan hampir mustahil. Namun pemerintah harus meniru cara-cara mereka meraih sukses.
Kita harus menggali segala sumber daya yang kita miliki dengan tangan dan kaki kita sendiri.Kalau kita mengandalkan hutang luar negeri nantinya kita akan semakin menjadi negara jajahan. Walau pun pada saat ini hanya dijajah secara ekonomi namun di era global nanti kita akan dijajah kembali baik secara ekonomi mau pun secara fisik. Kita akan kembali dijajah seperti sebelum tahun 1945 yang lalu. Harus kita buktikan bahwa kita ini mampu. Kata-kata bahwa kita tidak mampu itu hanya ungkapan para pejabat di zaman orde baru yang lalu yang ingin berkuasa lebih lama.
Pendidikan bisa dipersingkat utamanya untuk berbagai bidang ilmu yang hanya bersifat doktrin (seperti P4) dikurangi atau bahkan ditiadakan. Kehebatan Universitas atau Institut terkemuka bukan sepenuhnya disebabkab oleh lembaga pendidikan tersebut tetapi lebih banyak disebabkan oleh kualitas mahasiswanya. Artinya mahasiswa atau siswa yang hebat bisa belajar mandiri untuk lebih cepat menggeluti bidang pekerjaan yang diminati sehingga bangsa kita lebih produktif.
Pemerintah cukup menyediakan lembaga independen untuk melakukan ujian persamaan bagi mereka yang tidak mungkin meluangkan waktunya untuk belajar di sekolah konvensional.
Dengan materi ujian yang komprehensif akan memperoleh lulusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Biarkan lembaga pendidikan dibuka lebar-lebar. Pemerintah cukup melakukan pengawasan baik pelaksanaan pembelajaran atau ujian. Ujian persamaan yang dilakukan pemerintah untuk institusi yang belum diakreditasi atau mereka yang belajar mandiri agar dibuat secara komprehensif pula.
Dengan sumber daya manusia yang cepat kerja[bukan 'siap-pakai'] diharapkan menghasilkan produk yang berkualitas dan laku di pasar. Secara bertahap diharapkan produknya laku di luar negeri sehingga menambah devisa negara. Dengan cara ini diharapkan perekonomian akan membaik.
Senyampang kita berswasembada, hutang-hutang kita dari luar negeri dilakukan lobby untuk dibebaskan dari bunga atau bahkan diputihkan, andaikata tidak mau dicicil secara berkepanjangan.
Negara kita negara yang besar sehingga tidak mungkin ada negara yang tidak memerlukan kita. Negara Tiongkok saja yang penduduknya terbesar di dunia sudah beramai-ramai merayu kita untuk membeli produk-produknya. Jangan khawatir bahwa negara kita akan dikucilkan dunia. Akan rugi negara-negara yang tidak mau berurusan dengan kita. Paling tidak negara kita merupakan pangsa pasar yang masih menjanjikan.
Karenanya ketakutan bahwa kita akan diisolir dari negara lain tidak perlu ditakutkan.
Ketersediaan aneka ragam sumber daya di negara kita membuat kita harus tekun memanfaatkan guna memperbaiki perekonomian kita.
Jangan mengandalkan hutang-hutang luar negeri. Sebab kedatangan hutang-hutang luar negeri sangat menggiurkan untuk disalahgunakan oknum pejabat. Apalagi negara kita yang miskin ditambah krisis yang berkepanjangan.
Untuk itu hindarkan bahkan upayakan untuk tidak berhutang kepada luar negeri. Marilah kita bersama-sama menikmati apa yang kita miliki dan memanfaatkan untuk semaksimal kemakmuran rakyat bersama.
[Sumber:kusuma@plasa.com]
Akibat terlilitnya hutang negara yang sangat besar maka usaha ini akan memerlukan keterlibatan berbagai pihak untuk hidup lebih sederhana. Bahkan mungkin bisa dikatakan miskin bersama-sama. Mari kita makan apa adanya. Segala macam upaya import baik barang konsumsi mau pun barang produksi dihindarkan namun upaya ekspor sedapat mungkin ditingkatkan. Hal ini semata guna menghemat devisa yang semakin lesu saja.
Kita memiliki tanah air yang dapat dibudidayakan melalui agroindustri dan agrobisnis. Teknologi yang digunakan pun sedapat mungkin dari teknologi yang kita miliki. Suku cadang untuk memperbaiki berangsur-angsur harus dibuat di dalam negeri. Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan.
Kita pernah unggul di Asia Tenggara ini beberapa tahun silam. Karenanya keunggulan itu harus kita kejar dengan semangat seperti India atau Republik Rakyat Tiongkok.
Memang kita telah terlanjur ketinggalan dibandingkan India dan Tiongkok. Namun jika tidak dari sekarang pemerintah memaksa rakyat untuk BERDIKARI tampaknya ketinggalan itu akan semakin jauh saja.
Kita jangan silau atau mau mencontoh Singapura mau pun Hongkong sebab Singapura atau Hongkong adalah negara kecil yang hanya bisa sukses kalau mereka bertindak sebagai calo atau makelar. Negara kita yang luas dan penduduk yang 200 juta lebih tidak mungkin menjadi calo atau makelar semuanya. Siapa yang akan dimakelari atau dicaloi ?
Yang boleh dicontoh adalah negara India, Tiongkok, Korea, USA, atau Jepang. Untuk mengejar mereka tentu tidak mudah bahkan hampir mustahil. Namun pemerintah harus meniru cara-cara mereka meraih sukses.
Kita harus menggali segala sumber daya yang kita miliki dengan tangan dan kaki kita sendiri.Kalau kita mengandalkan hutang luar negeri nantinya kita akan semakin menjadi negara jajahan. Walau pun pada saat ini hanya dijajah secara ekonomi namun di era global nanti kita akan dijajah kembali baik secara ekonomi mau pun secara fisik. Kita akan kembali dijajah seperti sebelum tahun 1945 yang lalu. Harus kita buktikan bahwa kita ini mampu. Kata-kata bahwa kita tidak mampu itu hanya ungkapan para pejabat di zaman orde baru yang lalu yang ingin berkuasa lebih lama.
Pendidikan bisa dipersingkat utamanya untuk berbagai bidang ilmu yang hanya bersifat doktrin (seperti P4) dikurangi atau bahkan ditiadakan. Kehebatan Universitas atau Institut terkemuka bukan sepenuhnya disebabkab oleh lembaga pendidikan tersebut tetapi lebih banyak disebabkan oleh kualitas mahasiswanya. Artinya mahasiswa atau siswa yang hebat bisa belajar mandiri untuk lebih cepat menggeluti bidang pekerjaan yang diminati sehingga bangsa kita lebih produktif.
Pemerintah cukup menyediakan lembaga independen untuk melakukan ujian persamaan bagi mereka yang tidak mungkin meluangkan waktunya untuk belajar di sekolah konvensional.
Dengan materi ujian yang komprehensif akan memperoleh lulusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Biarkan lembaga pendidikan dibuka lebar-lebar. Pemerintah cukup melakukan pengawasan baik pelaksanaan pembelajaran atau ujian. Ujian persamaan yang dilakukan pemerintah untuk institusi yang belum diakreditasi atau mereka yang belajar mandiri agar dibuat secara komprehensif pula.
Dengan sumber daya manusia yang cepat kerja[bukan 'siap-pakai'] diharapkan menghasilkan produk yang berkualitas dan laku di pasar. Secara bertahap diharapkan produknya laku di luar negeri sehingga menambah devisa negara. Dengan cara ini diharapkan perekonomian akan membaik.
Senyampang kita berswasembada, hutang-hutang kita dari luar negeri dilakukan lobby untuk dibebaskan dari bunga atau bahkan diputihkan, andaikata tidak mau dicicil secara berkepanjangan.
Negara kita negara yang besar sehingga tidak mungkin ada negara yang tidak memerlukan kita. Negara Tiongkok saja yang penduduknya terbesar di dunia sudah beramai-ramai merayu kita untuk membeli produk-produknya. Jangan khawatir bahwa negara kita akan dikucilkan dunia. Akan rugi negara-negara yang tidak mau berurusan dengan kita. Paling tidak negara kita merupakan pangsa pasar yang masih menjanjikan.
Karenanya ketakutan bahwa kita akan diisolir dari negara lain tidak perlu ditakutkan.
Ketersediaan aneka ragam sumber daya di negara kita membuat kita harus tekun memanfaatkan guna memperbaiki perekonomian kita.
Jangan mengandalkan hutang-hutang luar negeri. Sebab kedatangan hutang-hutang luar negeri sangat menggiurkan untuk disalahgunakan oknum pejabat. Apalagi negara kita yang miskin ditambah krisis yang berkepanjangan.
Untuk itu hindarkan bahkan upayakan untuk tidak berhutang kepada luar negeri. Marilah kita bersama-sama menikmati apa yang kita miliki dan memanfaatkan untuk semaksimal kemakmuran rakyat bersama.
[Sumber:kusuma@plasa.com]
Sunday, 4 January 2009
Precious Topsoil
Without it there is no plants, no animals and NO FOOD! so stop wasting it.
Why civilisation depends on the protection of topsoil
DR WILLIAM REVILLE
Thu, Oct 09, 2008
UNDER THE MICROSCOPE:WE TAKE topsoil completely for granted, but our civilisation depends on it and we are losing our precious topsoil at an alarming rate.
We produce most of our food in topsoil, but we are losing about 1 per cent of our topsoil every year to erosion, mostly caused by agriculture. Conventional farming, based on ploughing, leaves soil vulnerable to erosion by wind and water, but a new sustainable approach, known as "no-till", is being adopted in some parts of the world. The new approach is described by Dr Huggins and JR Reganold in Scientific American(July 2008).
Ploughing is the traditional method of preparing the land for sowing crops, used since about 1500 BC. This turning of the soil buries crop residues, animal manure and weeds, and also warms and aerates the soil. But, ploughing also leaves the soil susceptible to erosion by wind and water and leads to degradation of agricultural land, posing a global threat to food production and to rural livelihoods, particularly in densely populated developing counties.
Agriculture expanded enormously over the course of the 20th century in order to feed the growing world population, and it consequently has a growing impact on the environment and on human health. But producing enough food is not enough - it must be done in a sustainable manner, leaving the soil capable of continuing high-volume food-production. One approach to achieve this is no-till farming.
No-till minimises soil disruption. Crop residues are left on the fields after harvesting and this acts as a mulch protecting the soil from erosion and maintaining soil productivity. Seeds are sown using special machines that penetrate through the mulch to the undisturbed soil below, depositing the seeds there, where they germinate and surface as the new crop.
A down-side to the no-till method is that the necessary machinery is initially quite expensive and the method also calls for increased use of expensive pesticides and herbicides to deal with weeds and pests that ploughing would have minimised.
Earth is covered by a thin layer of topsoil, on average only about one metre deep. Healthy topsoil is a living matrix that houses a fantastically diverse community of biological organisms - bacteria, nitrogen-fixing fungi and earthworms. The earthworms tunnel through the soil, creating channels that provide aeration and their digestive tracts transform fine grains of sterile rock and plant detritus into fertile excrement.
Topsoil forms naturally, but at a very slow rate. It grows at a rate of three to six centimetres over several hundred years, but is being eroded globally at a much faster rate. Cropland topsoil in the US is being eroded at least 10 times faster than it is being replaced. Worldwide, more than 25 million acres of cropland are degraded or lost annually as rain and wind sweep away topsoil.
No-till farming, on the other hand, can reduce soil erosion rates down close to soil production rates. It also stabilises soil structure and encourages high numbers of earthworms.
Civilisations depend on their topsoils. Simple calculations show that the rate at which the plough-based agriculture erosion of topsoil exceeds the natural replenishment of this vital resource neatly accounts for the life spans of many past civilisations - 800 to 2000 years.
No-till agriculture is currently practised on only 7 per cent of agricultural land worldwide. Eighty five percent of this no-till land is located in North and South America. Adoption rates of no-till methods are very low of Europe, Africa and Asia.
It is particularly difficult to establish this technique in developing countries because of the expensive equipment needed initially and because farmers there usually use crop residues for fuel, animal feed and other purposes. In Europe, governments do not encourage no-till (unlike in the US) and there are many restrictions on herbicide and pesticide use.
When the Earth had a small population, people could move from place to place and give depleted soil a chance to regenerate. But, with more than six billion people on the planet presently, that option no longer exists. We simply must now learn to farm without losing soil.
Progress is slow in establishing no-till agriculture on a global basis. But there is no doubt that measures must be established to conserve topsoil. At the moment we are "mining" this effectively non-renewable resource.
Soil erosion is as big a problem as global warming in the opinion of many experts, but it doesn't get the same publicity. It is time to give it serious attention.
A popular book, Dirt - The Erosion of Civilisations, by David Montgomery (University of California Press, 2007) is a very good exposition of the importance of topsoil and the problem we face today. Montgomery is a geomorphologist who studies how landscapes change with time.
• Dr Reville is associate professor of biochem- istry and public awareness of science officer at UCC - www.understandingscience.ucc.ie
© 2008 The Irish Times
Why civilisation depends on the protection of topsoil
DR WILLIAM REVILLE
Thu, Oct 09, 2008
UNDER THE MICROSCOPE:WE TAKE topsoil completely for granted, but our civilisation depends on it and we are losing our precious topsoil at an alarming rate.
We produce most of our food in topsoil, but we are losing about 1 per cent of our topsoil every year to erosion, mostly caused by agriculture. Conventional farming, based on ploughing, leaves soil vulnerable to erosion by wind and water, but a new sustainable approach, known as "no-till", is being adopted in some parts of the world. The new approach is described by Dr Huggins and JR Reganold in Scientific American(July 2008).
Ploughing is the traditional method of preparing the land for sowing crops, used since about 1500 BC. This turning of the soil buries crop residues, animal manure and weeds, and also warms and aerates the soil. But, ploughing also leaves the soil susceptible to erosion by wind and water and leads to degradation of agricultural land, posing a global threat to food production and to rural livelihoods, particularly in densely populated developing counties.
Agriculture expanded enormously over the course of the 20th century in order to feed the growing world population, and it consequently has a growing impact on the environment and on human health. But producing enough food is not enough - it must be done in a sustainable manner, leaving the soil capable of continuing high-volume food-production. One approach to achieve this is no-till farming.
No-till minimises soil disruption. Crop residues are left on the fields after harvesting and this acts as a mulch protecting the soil from erosion and maintaining soil productivity. Seeds are sown using special machines that penetrate through the mulch to the undisturbed soil below, depositing the seeds there, where they germinate and surface as the new crop.
A down-side to the no-till method is that the necessary machinery is initially quite expensive and the method also calls for increased use of expensive pesticides and herbicides to deal with weeds and pests that ploughing would have minimised.
Earth is covered by a thin layer of topsoil, on average only about one metre deep. Healthy topsoil is a living matrix that houses a fantastically diverse community of biological organisms - bacteria, nitrogen-fixing fungi and earthworms. The earthworms tunnel through the soil, creating channels that provide aeration and their digestive tracts transform fine grains of sterile rock and plant detritus into fertile excrement.
Topsoil forms naturally, but at a very slow rate. It grows at a rate of three to six centimetres over several hundred years, but is being eroded globally at a much faster rate. Cropland topsoil in the US is being eroded at least 10 times faster than it is being replaced. Worldwide, more than 25 million acres of cropland are degraded or lost annually as rain and wind sweep away topsoil.
No-till farming, on the other hand, can reduce soil erosion rates down close to soil production rates. It also stabilises soil structure and encourages high numbers of earthworms.
Civilisations depend on their topsoils. Simple calculations show that the rate at which the plough-based agriculture erosion of topsoil exceeds the natural replenishment of this vital resource neatly accounts for the life spans of many past civilisations - 800 to 2000 years.
No-till agriculture is currently practised on only 7 per cent of agricultural land worldwide. Eighty five percent of this no-till land is located in North and South America. Adoption rates of no-till methods are very low of Europe, Africa and Asia.
It is particularly difficult to establish this technique in developing countries because of the expensive equipment needed initially and because farmers there usually use crop residues for fuel, animal feed and other purposes. In Europe, governments do not encourage no-till (unlike in the US) and there are many restrictions on herbicide and pesticide use.
When the Earth had a small population, people could move from place to place and give depleted soil a chance to regenerate. But, with more than six billion people on the planet presently, that option no longer exists. We simply must now learn to farm without losing soil.
Progress is slow in establishing no-till agriculture on a global basis. But there is no doubt that measures must be established to conserve topsoil. At the moment we are "mining" this effectively non-renewable resource.
Soil erosion is as big a problem as global warming in the opinion of many experts, but it doesn't get the same publicity. It is time to give it serious attention.
A popular book, Dirt - The Erosion of Civilisations, by David Montgomery (University of California Press, 2007) is a very good exposition of the importance of topsoil and the problem we face today. Montgomery is a geomorphologist who studies how landscapes change with time.
• Dr Reville is associate professor of biochem- istry and public awareness of science officer at UCC - www.understandingscience.ucc.ie
© 2008 The Irish Times
Subscribe to:
Posts (Atom)