Showing posts with label Revolusi Mental. Show all posts
Showing posts with label Revolusi Mental. Show all posts

Friday, 24 October 2014

Salah Tafsir Jokowi (Radhar Panca Dahana) Kompas

Pilgub Jatim | Salah Tafsir Jokowi
Budayawan Indonesia Radhar Panca Dahana membahas dengan jernih dan cerdas "Revolusi Mental" Presiden Jokowi. Jarang ada tulisan memukau seperti ini lahir dari tulisan sastrawan
kita. Klik tautan untuk membaca lanjut.

"Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam "kecerdasan" tradisional.." ~Radhar Panca Dahana
[...] Kecerdasan tradisional
Hal pertama dan utama adalah pencitraan stigmatik yang menganggap Jokowi memiliki kecerdasan—katakanlah—sebagaimana yang kita bayangkan ada pada Obama atau tokoh dunia lain. Bahkan juga apabila dibandingkan dengan seorang direktur atau eksekutif sebuah organisasi/perusahaan pun, performa Jokowi sesungguhnya di bawah standar atau kategori-kategori canggih manajemen-performatif modern. Karena itu, Anda akan merugi jika mengharapkan, misalnya, Jokowi dapat mempresentasi konsep atau ide-ide (kenegaraan atau pemerintahannya) laiknya seorang eksekutif andal. 

Pelisanan atau retorikanya sungguh tak cakap, diksinya miskin, bahasa tubuh kaku, paralingual tak mampu dimainkan untuk memperkuat pernyataannya sendiri, bahasa Inggris tak fasih, bicara simbol atau visual display tidak mahir, dan seterusnya. Kualitas mediokratik presentasinya mungkin ada pada tingkatan middle-manager. Jokowi tentu saja tidak sama sekali tak cerdas. Dalam standar atau paham kecerdasan yang, misalnya, kita dapatkan dari seorang Habibie, Gus Dur, apalagi Soekarno,bahkan ahli-ahli retorika yang silih ganti tampil di layar datar televisi. Namun, mengapa ia begitu hebat? Mengapa ia bisa menaklukkan lebih dari separuh rakyat negeri ini, dan menjadi seorang
pemimpin tertinggi, menumbangkan begitu banyak tokoh cerdas, berpengalaman, bermodal besar, berjaringan luas, dan sebagainya?
Jawabannya cuma satu: Jokowi "cerdas". Bukan cerdas dalam pengertian modern yang akademik, saintifikal, atau berbasis pada rasionalisme-materialistik atau logosentrisme oksidental, sebagaimana tokoh-tokoh kita sejak masa pergerakan awal dulu. Jokowi "hanyalah" sarjana strata satu kehutanan, tidak lebih. Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam "kecerdasan" tradisional, bisa juga primordial, yang dia dapatkan semata dari penghayatannya yang tulen pada sumber pengetahuan yang ada di dalam nature atau alam bawah sadarnya sebagai bagian organik dari suku Jawa. Inilah satu bentuk kecerdasan yang tak pernah dan mungkin tak bisa dipetakan, disistematisasi, difalsifikasi atau diteorisasikan oleh pelbagai bentuk epistemologi yang ada saat ini.
Kecerdasan ini memang tidak "disadari" ("sadar" dalam pengertian akal yang sistematikanya dikelola oleh rasionalisme positif), tetapi ia eksis atau mengendap begitu saja dalam diri kita. Kita umumnya, tidak hanya tidak "menyadari", tetapi juga tidak "mengetahui" karena kecerdasan itu sejak kanak kita tutupi (cover) dengan satu bentuk kultur/adab dengan kecerdasan yang sangat lain/berbeda. Kultur/adab kontinental yang kita internalisasi sejak PAUD hingga posdoktoral.
Kapasitas dan kapabilitas dari kecerdasan tradisional ini, jika tidak seimbang, saya kira, lebih ampuh ketimbang kecerdasan rasional modern. Kapabilitasnya dalam mengidentifikasi masalah, menemukan substansi, mengkreasi solusinya yang inovatif, dan mengimplementasikannya dalam praksis (kebijakan) hidup sehari-hari. Kecerdasan ini tidak bermain di atas meja, dalam angka-angka, eksposisi ilmiah atau simpulan-simpulan spekulatif yang reduksionistik, sebagaimana hasil riset-riset sejumlah laboratorium sosial.


Wednesday, 15 October 2014

Tempat Kalla dalam "Revolusi Jokowi" (Kompas, 22 Aug 2014, Fachry Ali)


[...] Joko Widodo (Jokowi) sebagai ”pemimpin pasca elite”. Ini terjadi karena, menggunakan frasa sejarawan Taufik Abdullah, ”kesewenangan sejarah” yang membuat Indonesia sejak awal berada di bawah kepemimpinan kaum elite. Walau punya cita-cita ”sempurna” tentang bagaimana rakyat Indonesia harus dipimpin dan dimakmurkan, kaum elite ”terperangkap” ke dalam dua aspek tak terhindarkan. Selain rumusan cita-cita mereka diambil dari pengalaman negara dan masyarakat maju[*], watak kepemimpinan mereka lebih dibentuk proses sosialisasi dan mobilitas vertikal di dalamlembaga-lembaga politik dan birokrasi yang terpisah dari pengalaman keseharian rakyat banyak.[*baca: pola pembangunan modern versi Rostow]



Sumber: