Showing posts with label environment. Show all posts
Showing posts with label environment. Show all posts

Sunday, 26 January 2014

Globalisation and the Environment

http://ifsw.org/policies/globalisation-and-the-environment/

Thursday, 3 November 2011

Dr Jumsai lectures during World Environment Day 2010, Singapore

Dr Jumsai is a former NASA scientist, MP in Thailand and business man. Currently he is the director of Sathya Sai School in Thailand, educator and presenter with world-wide engagement.




Sunday, 7 August 2011

Kon-Tiki dalam Lemari

Waktu aku masih kecil, masih 'seketek' membaca buku dan koran adalah hobi beratku. Banyak buku-buku kukumpulkan,ada yang kubeli dari wang jajanku namun kebanyakan pemberian ayah dan tanteku. Kalau pemberian ayahku biasanya ber-'genre' petualangan ataupun penjelajahan alam, teringat aku beberapa misalnya petualang samudra Thor Heyerdahl dengan "Kon-Tiki", "Natural History" oleh Bertha Morris Parker dan juga beragam serial wayang macam "Wayang Poerwa", Mahabarata dan turunan-nya yang kebanyakan adalah buahtangan R.A.Kosasih, diterbitkan pertama kali oleh Melodie, Bandung.

Weleh 'one thing leads to another' kata orang Inggris bikin aku ingat bacaan lokal mungkin juga 'hibrid' dagelan para punakawan "Petruk Gareng" mereka berdua ini biasanya dapat peran  protagonis lalu Semar sebagai "Yoda" pra-starwars dan tokoh antagonis oleh Togog....ckk...ckk benar-benar bikin orang terkekeh-kekeh sendirian, menghibur hati sedih jadi senang. Komik ini sungguh tak pernah bosan untuk dibaca ulang. 

Buku-buku ini semua kususun rapi dalam tatanan 'genre' - maklumlah aku taktau apa yang namanya 'dewey-system' itu. Lemari ber-politur coklat tua setinggi hampir tiga meter itu terdiri dari tiga bilik: bilik paling kiri untuk untuk perpustakaan, bilik tengah tempat mainan dan bilik kanan untuk simpan pakaian. Saking 'beken' nya lemari bacaku anak-anak se-gang suka baca dikamarku...

Selanjutnya kita nikmati dulu pelayaran lintas Lautan Teduh Thor Heyerdahl dengan perahu tradisional Kon-Tiki:

Monday, 9 November 2009

Dr. Art-ong Jumsai na Ayudhya: Kurangi Makan Daging Dapat Hapuskan Kelaparan Dunia





Kurangi Makan Daging Dapat Hapuskan Kelaparan Dunia
Cetak
Batam, (Analisa)

Pakar lingkungan dari Inggris Tony Deep mengatakan jika setiap orang mengurangi makan daging 20 persen, maka akan mampu menghapuskan kelaparan di dunia.

"Kalau saja Anda mengurangi makan daging, maka tidak akan ada lagi kelaparan di dunia," kata dia di sela-sela Kongres Vegetarian Asia ke-4 di Batam, Sabtu.
Ia mengatakan jika setiap orang mengurangi memakan daging dan menggantinya dengan makanan tumbuhan, maka akan tersedia lebih banyak makanan di bumi.

Daging, kata dia, diambil dari peternakan. Sebuah kandang hewan membutuhkan banyak ruang, yang bila dimanfaatkan sebagai kebun, akan menghasilkan lebih banyak makanan.

Hewan, sebelum dikonsumsi, juga memakan tumbuhan, yang sebenarnya dapat dikonsumsi manusia. "Itulah makanya, jika manusia mengonsumsi tumbuhan dan menjadi vegetarian, maka tidak ada lagi kelaparan di dunia ini," kata dia.

Ia mempercayai mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan akan baik untuk kesehatan manusia. Sama baiknya, bahkan lebih baik, ketimbang mengkonsumsi daging.
Menurut dia, menghentikan konsumsi daging juga akan berdampak baik bagi lingkungan.

Selain Deep, belasan profesor akan mengisi Kongres Vegetarian Asia ke-4, di antaranya peraih Nobel Perdamaian yang juga Ketua Panel Antar pemerintahan soal Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau IPPC PBB Rajendra Pachauri dan mantan ilmuwan NASA, Art-Ong Jumsa[i][Sai Organisation].

Sekitar 1.000 peserta dari 14 negara mengikuti Kongres Vegetarian Dunia ke-4 di Batam. Meskipum Kongres Asia, namun beberapa ilmuan Eropa seperti Inggris, Perancis dan Belgia juga turut hadir merumuskan rekomendasi dunia tentang vegetarian.

Kongres, dibagi dalam beberapa fokus grup yang membahas berbagai hal yang terkait vegetarian, mulai dari hidup sehat hingga penyelamatan bumi.
Kongres Vegetarian Asia Ke-4 dilaksanakan di Novotel Batam, 6-10 November.(Ant)


SATHYA SAI EDUCATION IN INDONESIA AND KAZAKHSTAN
[...] In Indonesia, it is very easy as they are very open. Now I've got to
go and do a series of training for Muslim teachers in Indonesia.

Another place where Sathya Sai Education is really spreading is
Kazakhstan. The original people who lived in Kazakhstan are called
Kazakhs. The Kazakhs are Muslims. And again, we were invited by the
First Lady of Kazakhstan, who is a Kazakh. We started training in all
the regions of the country. I've been there six times already.

Then last February, the First Lady came here to meet Swami. And the
First Lady asked me to come, so that we could meet Swami together. So
I came and we had several interviews.

Swami looked at me every time He called the Kazakh people. He said,
"You are not Kazakh!" (Laughter)

Then He told me, "This is only for Kazakhstan."

So I looked sad. (Laughter) Swami looked at me and said, "Alright,
alright. You can go in." (Laughter)

So you see, God is not just Father and Mother. Sometimes, you have to
treat Him as a Friend. Sometimes, you treat Him as an Elder Brother.
But He is also our Father and Mother. As such, He always has a lot of
compassion and a lot of love for all of us.

Another country where we are now really going into is China. China is
the last stronghold of communism. But when I go in there, I see that
they are becoming very quickly a capitalist country. The whole
country is changing and they are moving rapidly into
industrialisation. And because they moved very quickly into
materialism, they have a lot of problems with their youth. So now,
there is a demand for human values there as well.

I have already gone into the Guandong Province to train teachers
there. And now, I have got an indication from the Nanjing local
authorities to go and train teachers there as well. And you know how
it happened? (Murmurs "no, no" in audience)[...]