Eclectic collections of posts & reposts relating to 'development' as lifestyle improvements. Blogging since 2004.
Wednesday, 29 October 2014
Monday, 27 October 2014
Sunday, 26 October 2014
How a Brazilian City Has Revolutionized Urban Planning
Is Curitiba the world's greenest city?
Friday, 24 October 2014
Salah Tafsir Jokowi (Radhar Panca Dahana) Kompas
Pilgub Jatim | Salah Tafsir Jokowi
Budayawan Indonesia Radhar Panca Dahana membahas dengan jernih dan cerdas "Revolusi Mental" Presiden Jokowi. Jarang ada tulisan memukau seperti ini lahir dari tulisan sastrawan
kita. Klik tautan untuk membaca lanjut.
Budayawan Indonesia Radhar Panca Dahana membahas dengan jernih dan cerdas "Revolusi Mental" Presiden Jokowi. Jarang ada tulisan memukau seperti ini lahir dari tulisan sastrawan
kita. Klik tautan untuk membaca lanjut.
"Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam "kecerdasan" tradisional.." ~Radhar Panca Dahana
[...] Kecerdasan tradisional
Hal pertama dan utama adalah pencitraan stigmatik yang menganggap Jokowi memiliki kecerdasan—katakanlah—sebagaimana yang kita bayangkan ada pada Obama atau tokoh dunia lain. Bahkan juga apabila dibandingkan dengan seorang direktur atau eksekutif sebuah organisasi/perusahaan pun, performa Jokowi sesungguhnya di bawah standar atau kategori-kategori canggih manajemen-performatif modern. Karena itu, Anda akan merugi jika mengharapkan, misalnya, Jokowi dapat mempresentasi konsep atau ide-ide (kenegaraan atau pemerintahannya) laiknya seorang eksekutif andal.
Hal pertama dan utama adalah pencitraan stigmatik yang menganggap Jokowi memiliki kecerdasan—katakanlah—sebagaimana yang kita bayangkan ada pada Obama atau tokoh dunia lain. Bahkan juga apabila dibandingkan dengan seorang direktur atau eksekutif sebuah organisasi/perusahaan pun, performa Jokowi sesungguhnya di bawah standar atau kategori-kategori canggih manajemen-performatif modern. Karena itu, Anda akan merugi jika mengharapkan, misalnya, Jokowi dapat mempresentasi konsep atau ide-ide (kenegaraan atau pemerintahannya) laiknya seorang eksekutif andal.
Pelisanan atau retorikanya sungguh tak cakap, diksinya miskin, bahasa tubuh kaku, paralingual tak mampu dimainkan untuk memperkuat pernyataannya sendiri, bahasa Inggris tak fasih, bicara simbol atau visual display tidak mahir, dan seterusnya. Kualitas mediokratik presentasinya mungkin ada pada tingkatan middle-manager. Jokowi tentu saja tidak sama sekali tak cerdas. Dalam standar atau paham kecerdasan yang, misalnya, kita dapatkan dari seorang Habibie, Gus Dur, apalagi Soekarno,bahkan ahli-ahli retorika yang silih ganti tampil di layar datar televisi. Namun, mengapa ia begitu hebat? Mengapa ia bisa menaklukkan lebih dari separuh rakyat negeri ini, dan menjadi seorang
pemimpin tertinggi, menumbangkan begitu banyak tokoh cerdas, berpengalaman, bermodal besar, berjaringan luas, dan sebagainya?
pemimpin tertinggi, menumbangkan begitu banyak tokoh cerdas, berpengalaman, bermodal besar, berjaringan luas, dan sebagainya?
Jawabannya cuma satu: Jokowi "cerdas". Bukan cerdas dalam pengertian modern yang akademik, saintifikal, atau berbasis pada rasionalisme-materialistik atau logosentrisme oksidental, sebagaimana tokoh-tokoh kita sejak masa pergerakan awal dulu. Jokowi "hanyalah" sarjana strata satu kehutanan, tidak lebih. Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam "kecerdasan" tradisional, bisa juga primordial, yang dia dapatkan semata dari penghayatannya yang tulen pada sumber pengetahuan yang ada di dalam nature atau alam bawah sadarnya sebagai bagian organik dari suku Jawa. Inilah satu bentuk kecerdasan yang tak pernah dan mungkin tak bisa dipetakan, disistematisasi, difalsifikasi atau diteorisasikan oleh pelbagai bentuk epistemologi yang ada saat ini.
Kecerdasan ini memang tidak "disadari" ("sadar" dalam pengertian akal yang sistematikanya dikelola oleh rasionalisme positif), tetapi ia eksis atau mengendap begitu saja dalam diri kita. Kita umumnya, tidak hanya tidak "menyadari", tetapi juga tidak "mengetahui" karena kecerdasan itu sejak kanak kita tutupi (cover) dengan satu bentuk kultur/adab dengan kecerdasan yang sangat lain/berbeda. Kultur/adab kontinental yang kita internalisasi sejak PAUD hingga posdoktoral.
Kapasitas dan kapabilitas dari kecerdasan tradisional ini, jika tidak
seimbang, saya kira, lebih ampuh ketimbang kecerdasan rasional modern.
Kapabilitasnya dalam mengidentifikasi masalah, menemukan substansi,
mengkreasi solusinya yang inovatif, dan mengimplementasikannya dalam
praksis (kebijakan) hidup sehari-hari. Kecerdasan ini tidak bermain di
atas meja, dalam angka-angka, eksposisi ilmiah atau simpulan-simpulan
spekulatif yang reduksionistik, sebagaimana hasil riset-riset sejumlah
laboratorium sosial.Talking green economy with Hunter Lovins
Thursday, 23 October 2014
Basuki: Jokowi Tak Bawa Ranjang Pribadinya ke Istana | Beritasatu.com
Basuki: Jokowi Tak Bawa Ranjang Pribadinya ke Istana | Beritasatu.com
"Pak Jokowi berani loh. Dia nempati kamar yang dulu jadi kamar Bung Karno. Selama ini nggak ada presiden yang berani, termasuk Bu Mega (Megawati Soekarnoputri)," ungkap pria yang akrab disapa Ahok ini.
Monday, 20 October 2014
PELANTIKAN JOKOWI-JK: Isi Lengkap Pidato Jokowi "Di Bawah Kehendak Rakyat & Konstitusi" | Quick News - Bisnis.com
PELANTIKAN JOKOWI-JK: Isi Lengkap Pidato Jokowi "Di Bawah Kehendak Rakyat & Konstitusi" | Quick News - Bisnis.com
[...]Baru saja kami mengucapkan sumpah, sumpah itu memiliki makna sp[i]ritual yang dalam, yang menegaskan komitmen untuk bekerja keras mencapai kehendak kita bersama sebagai bangsa yang besar. Kini saatnya, kita menyatukan hati dan tangan. Kini saatnya, bersama-sama melanjutkan ujian sejarah berikutnya yang maha berat, yakni mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Friday, 17 October 2014
Will I use it or not? - Awesome Sanitation Services for the Urban Poor #Toilets4All
Wednesday, 15 October 2014
Tempat Kalla dalam "Revolusi Jokowi" (Kompas, 22 Aug 2014, Fachry Ali)
Program LH Jokowi JK
(picture taken from http://www.sbs.com.au/news/article/2014/06/30/study-shows-indonesias-rapid-deforestation)
[...]Saya coba menyusun keping-keping program lingkungan pasangan Jokowi - JK yang berserakan tersebut.
1. Menegakkan
hukum lingkungan secara konsekuen tanpa pandang bulu dan tanpa khawatir
kehilangan investor.
2. Menerapkan
kebijakan permanen bahwa negara berada pada titik kritis disebabkan kerusakan
lingkungan hidup.
3. Memfasilitasi
setiap warga negara supaya punya akses memiliki tanah sebagai tempat menetap
dan memperoleh penghidupan layak.
4. Mendorong
reformasi pertanahan melalui penyempurnaan UU Pokok Agraria.
5. Membuat
pengaturan jelas untuk mekanisme penyelesaian sengketa tanah dengan
memperhatikan hukum adat.
6. Menginisiasi
perangkat hukum khusus dengan satuan tugas khusus untuk menindak pelanggaran
yang berkaitan dengan illegal logging, illegal fishing, dan illegal mining.
7. Meningkatkan
kerja sama internasional untuk mencegah aktivitas ilegal di Indonesia dibawa ke
luar negeri dan sebaliknya.
Sementara program lingkungan pasangan Prabowo-Hatta yang terumuskan adalah sebagai berikut:
1. Memulai
reboisasi 77 juta hektare hutan yang rusak.
2. Menindak tegas
pelaku pencemaran lingkungan dan melindungi keanekaragaman hayati.
3. Melaksanakan
penanaman pohon penghasil kayu secara individu atau kolektif maksimal 5
hektare.
4. Mendorong
semua usaha kehutanan dan produk turunannya mendapat sertifikasi yang diterima
pasar global.
5. Mensyaratkan
kontribusi pembangunan hutan kota.
6. Merehabilitasi
daerah aliran sungai dan sumber air.
7. Mendorong
usaha batu bara, nikel, tembaga, bauksit, dan besi menjadi pertambangan yang ramah
lingkungan dan sosial.
8. Berperan aktif
dalam upaya mengatasi perubahan iklim global.
Dari program lingkungan kedua pasangan capres tersebut di atas, yang paling jelas terlihat adalah eksistensi manusia, dalam hal ini kelompok manusia yang berada dilingkaran sebuah ekosistem (baca: lingkungan). Dalam program lingkungan pasangan Prabowo - Hatta, nyaris tak ada tempat bagi eksistensi manusia. Misalnya eksistensi masyarakat adat dan komunitas-komunitas lokal disekitar kawasan hutan. Peran masyarakat adat atau komunitas lokal dinegasikan, bisa dianggap tidak ada, atau tidak dilibatkan dalam praktek-praktek pengelolaan lingkungan seperti yang tertuang dalam delapan poin program lingkungan hidup mereka. Inilah model pengelolaan lingkungan Eco fascism atau faham fasis konservasi lingkungan.
Dikutip dari blog saudara Jopi Peranginangin, Friday, May 30, 2014, berjudul: Semangat Eco Fascism vs Eco Populism Dalam Program Lingkungan Capres
Water Runs Off in Urban & Natural area
Post development
Check out @CtCrisis's Tweet: https://twitter.com/CtCrisis/status/485704729021140992
Di Atas DPR Masih Ada Rakyat - Kompas.com
Creating Regenerating Cities: Case Studies from Around the World
Singapore water management among other examples.
links: http://www.pub.gov.sg/Marina/Pages/default.aspx
http://www.pub.gov.sg/products/Pages/default.aspx
links: http://www.pub.gov.sg/Marina/Pages/default.aspx
http://www.pub.gov.sg/products/Pages/default.aspx
View Point: Jokowi’s first presidential order: New false teeth for ‘Ibu’ Eet | The Jakarta Post
View Point: Jokowi’s first presidential order: New false teeth for ‘Ibu’ Eet | The Jakarta Post
Hopefully, Eet will have her new teeth by the time Jokowi is sworn into office in the next 10 days. It could become the first realization of one of Jokowi’s promises as the country’s seventh president. -Kornelius Purba, Jakarta Post
Brandon Smith: "The Collapse is Happening Now"
Wednesday, 8 October 2014
Marshall Mcluhan Full lecture: The medium is the message - 1977 part 1 v 3
..to 'read' is to guess' -Marshall Mcluhan
De-growth as Political, economic and social concept - The European Institute - EIILIR
De-growth as Political, economic and social concept - The European Institute - EIILIR: De-growth is a political, economic and social concept according to which the permanent increase of the world's demography and the economic growth which should spill over from it does not benefit mankind but threatens the environment, peace, and for the most pessimistic persons the survival of the human being. This is why it is opposed to sustainable development. Anti-productivist and anti-consumerist movements, as well as a number of ecologist movements, make use of it, and sometimes de-growth is said to be « sustainable » and « convivial ».
Friday, 3 October 2014
Ebola a Symptom of Ecological and Social Collapse | EcoInternet
[...] ecosystem loss and biosphere collapse indicates more natural
ecosystems have been loss than the global environment can handle without
collapsing. Yesterday, new science reported that 50% of Earth’s
wildlife has died (in fact been murdered) in the last 40 years [3] - Dr Glen Barry
Ebola a Symptom of Ecological and Social Collapse | EcoInternet
Subscribe to:
Comments (Atom)